Monday, June 2, 2008

(PTK)Kontribusi Metode pembelajaran Oleh Guru Terhadap Kegairahan Belajar Peserta didik dan Daya SErap Pelajaran

KONTRIBUSI METODE PEMBELAJARAN
OLEH GURU TERHADAP KEGAIRAHAN BELAJAR PESERTA DIDIK
DAN DAYA SERAP PELAJARAN


PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Oleh :
Joko Gumilang

















SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU
DARUL ABIDIN
DEPOK
2008
KATA PENGANTAR

Bismillahirohmanirrohim
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, atasrahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan penelitian tindakan kelas (PTK) ini.
(PTK) ini berjudul “Kontribusi Metode Pembelajaran Oleh Guru Terhadap Kegairahan Belajar Peserta Didik Dan Daya Serap Pelajaran” yang merupakan masalah dasar dalam proses belajar mengajar.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Istri tercinta dan Raya, atas waktu yang diberikan
2. Ibu Endah Tri Kusumawati, M.Pd, atas dukungannya
3. Teman-teman guru kelas,atas kerjasamanya
4. Teman-teman guru dan sivitas DARBI
5. Anak-anak ku di kelas 6, selaku sumber inspirasi
Penulis menyadari bahwa penelitian tindakan kelas ini masih jauh dari sempurna, namun penulis berharap (PTK) ini bermanfaat bagi yang memerlukan

PENDAHULUAN
Keberhasilan dari proses pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor yang merupakan komponen pembelajaran. Salah satu faktor dari komponen pembelajaran adalah faktor guru sebagai pembina peserta didik.salah satu keberhasilan dari pembelajaran, guru berupaya menciptakan suasana kegairahan belajar peserta didik,yang dapat ditimbulkan baik dalam situasi akademik dan non akademik.
LATAR BELAKANG
Seorang guru berperan sebagai pengelola proses belajar mengajar (PBM) bertindak selaku pasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar yang efektif, mengembangkan materi pengajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan peserta didik untuk merespon materi belajar dan memahami tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Dalam memenuhi harapan tersebut guru dituntut mampu mengelola PBM dengan baik dan maksimal yang dapat memberikan rangsangan kepada peserta didik sehingga peserta didik tertarik untuk belajar karena memang peserta didik merupakan subjek utama dalam belajar. Kondisi belajar efektif harus diciptakan , serta memiliki motivasi untuk belajar yang diwujudkan dalam bentuk adanya kegairahan belajar pada diri peserta didik. Akibat kurangnya kegairahan belajar pada peserta didik sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan yang mengarah pada mengapa peserta didik kurang memiliki gairah belajar, apakah gurunya membosankan dalam menyampaikan materi, apakan sistem dan budaya di lingkungan sekolah yang terlalu longgar dalam menerapkan disiplin belajar atau apakan faktor ekternal yang mempengaruhi kegairahan belajar peserta didiknya.


IDENTIFIKASI MASALAH
1. Bagaimana proses belajar mengajar (PBM) terhadap peserta didik yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran?
2. Bagaimana tingkat kegairahan belajar peserta didik?
3. Bagaimana kontribusi metode pengajaran oleh guru terhadap kegairahan belajar peserta didik?

TUJUAN PENELITIAN
1. Tingkat kegairahan belajar peserta didik
2. Kontribusi metode pengajaran oleh guru terhadap kegairahan belajar peserta didik.
KEGUNAAN PENELITIAN
1. Kontribusi bagi SDIT Darul Abidin Depok.
Hasil penelitian ini akan mengungkapkan bagaimana penilaian peserta didik terhadap metode mengajar yang dilakukan dalam upaya meningkatkan kegairahan belajar.
2. Kontribusi bagi para pengajar, secara teoritis dan praktis dapat mengembangkan ilmu pendidikan,serta dapat melakukan peninjauan, penelaahan dan evaluasi terhadap tindakan-tindakan pembelajaran yang harus dilakukan dalam upaya menciptakan kegairahan belajar
3. Kontribusi bagi diri peneliti khususnya.

METODE DAN SIFAT PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode kuesioner.
Sifat penelitian adalah kuantitatif dan kualitatif ,karena akan mengkorelasikan beberapa data penunjang, metode pengajaran dan kegairahan belajar peserta didik

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembelajaran akan lebih bermakna dimana guru mampu menciptakan kondisi belajar yang dapat membangun kreatifitas untuk menguasai ilmu pengetahuan. Berdasarkan uraian di atas kepercayaan akan kemampuan dan motivasi peserta didik merupakan hal yang paling dasar yang harus ditanamkan sebagai upaya untuk menciptakan semangat dan kegairahan belajar peserta didik.
Tabel 1 . Persentase Kegairahan Belajar Peserta didik di Rumah

Dari tabel 1 dapat dilihat bahwa hanya 45,4 % peserta didik yang sering belajar di rumah, sedangkan yang menyatakan tidak sering belajar di rumah sebesar 56,6 %, seharusnya untuk siswa kelas 6 SD hal tersebut tidak terjadi karena beban yang mereka hadapi lebih besar dari level-level kelas sebelumnya, mereka harus mendapatkan nilai yang baik yang notabene untuk jalan mereka menuju sekolah lanjutan yang mereka inginkan. Rendahnya kegairahan belajar di rumah berhubungan erat dengan tiga komponen yaitu, guru, bidang studi dan lingkungan. Interaksi yang tidak sehat dari 3 komponen tersebut dapt meneyebabkan rendahnya kegairahan belajar peserta didik di rumah. Guru merupakan komponen terpenting dalam proses PBM, guru harus mampu menjadi motivator peserta didik dan memberi rangsangan kepada peserta didik untuk tertarik belajar baik di sekolah itu sendiri atau pun di rumah. Rangsangan yang dapat dilakukan oleh guru untuk meningkatkan motivasi belajar, salah satunya dapat diwujudkan dari sikap saat guru mengajar, karena sikap saat guru mengajar terbukti sangat mempengaruhi pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran, hal ini dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Sikap Guru yang Dapat Membantu Peserta Didik Memahami Pelajaran.
Dari tabel 2. dapat dilihat, bahwa sikap guru yang dapat membantu pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran sangat bervariasi, 15,9 % peserta didik memilih sikap guru yang tidak mudah marah. Hal ini dapat disebabkan karena dengan sikap tidak mudah marah akan tercipta iklim belajar yang santai, hangat, sehingga menimbulkan suasana hati yang tenang dan positif. Collin Rose (1999) dalam buku ” Kuasai Lebih Cepat” menyatakan bahwa suasana hati yang tenang dan positif merupakan kunci utama sebelum memulai belajar. Guru yang mudah marah akan menciptakan suasana pembelajaran yang tegang, sehingga membuat peserta didik dalam keadaan stress, jika peserta didik stress informasi tidak akan pernah mencapai otak, informasi akan tersaring (otak tiba-tiba terasa kosong) sehingga lebih sedikit informasi baru yang diterima oleh otak, dan belajarpun menjadi tidak efektif . dari tabel 2. juga dapat dilihat sikap pendidik yang paling dominan dipilih peserta didik adalah ramah, suka becanda, bisa diajak ngobrol tetapi serius (52,3 %). Sikap tersebut di atas dapat membantu pemahaman peserta didik terhadap mata pelajaran karena selain dengan sifat tersebut dapat menciptakan suasana hati yang tenang dan positif, juga dengan sikap ramah, suka becanda, bisa diajak ngobrol akan menyebabkan terbangunnya ikatan emosional antara guru dan peserta didik. Dengan adanya ikatan emosional, maka akan terbagun jembatan menuju kegairahan belajar serta, membuka jalan memasuki dunia baru peserta didik, memudahkan pengelolaan kelas dan memperpanjang waktu Fokus sekaligus meningkatkan kegembiraan. Seorang pendidik didalam melakukan pembelajaran akan mencapai hasil yang lebih tinggi jika mereka menyingkirkan segala ancaman dan selalu melibatkan emosi siswa dan membangun hubungan. Sikap suka becanda dari seorang guru dapat menghindarkan anak dari rasa bosan, karena rasa bosan akan menyebabkan peserta didik berontak dan berulah sehingga merusak suasana PBM dalam hal ini terganggunya konsentrasi belajar. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa sikap guru akan menentukan kegairahan belajar peserta didik yang secara otomatis meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap pelajaran yang sedang dipelajari sehingga membantu dalam peningkatan daya serap mata pelajaran Tabel 3. Guru Bidang Studi yang Paling Mudah Dipahami Saat mengajar

Bila dilihat dari tabel 3. guru bidang studi IPA mendapatkan hasil tertinggi sebesar 45.4 % dan bila dihubungkan dengan sikap mengajar pada tabel 4. guru bidang studi IPA yang paling dinilai sebagai guru yang menyenangkan (36,1 %), bisa bertukar pendapat (34,5 %), dan suka becanda (39,3 %). Hasil ini menunjukkan metode guru bidang studi IPA pada saat mengajar membantu peserta didik untuk mudah memahami pelajaran pada saat PBM.

Tabel 5. Mata Pelajaran yang Paling Mudah Dipahami
Dari tabel 5. dapat disimpulkan bahwa metode guru yang dapat membuat peserta didik menrasa nyaman dan menyenangkan akan meningkatkan pemahaman saat proses belajar berlangsung dan yang paling utama dapat meningkatkan pula daya serap pelajaran dalam hal ini sesuai dengan data daya serap pelajaran mata pelajaran pada tabel 6 dibawah ini.
Tabel 6. Daya Serap Mata Pelajaran

KESIMPULAN

Dari hasil PTK ini dapat disimpulkan :
1. Metode pengajaran guru berpengaruh kepada daya serap pelajaran
2. Metode atau sikap guru menyampaikan materi pembelajaran secara menyenangkan dapat meningkatkan daya serap pelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Rose, C. 2003. K-U-A-S-A-I Lebih Cepat. Penerbit. Kaifa
Sampurno, A. 2008. 7 Kebiasaan Guru
Supriyadi. 2005. Penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research). Universitas Negeri jakarta.
Sutikno,S. 2008. Peran Guru Dalam Membangkitkan Motivasi Belajar Siswa

Thursday, April 24, 2008

3 pekan terakahir

Tidak terasa UASBN tingkat Sekolah Dasar akan segera digelar, perasaan khawatir selalu ada,meskipun keyakinan siswa/siswi kami mampu berikan yang terbaik.
ayo nak, tunjukkan bahwa kamu bisa berikan yang terbaik .
tiga pekan terakhir ini, hal yang kami lakukan khususnya untuk peljaran IPA adalah persiapan mental peserta didik, membuat mereka tenang dan membangun kepercayaan diri mereka. pengulangan materi pembelajaran tidak lagi dilakukkan di dalam kelas melainkan di ruang perpustakan dengan media VCD materi terkait.
do'a bapak joko selalu untuk kalian semua. ingat !!! kita sama-sama tersenyum bahagia di hari WISUDA.

Saturday, April 19, 2008

membuat anak senang belajar

Beberapa tips di bawah ini SANGAT MENENTUKAN dan EFEKTIF diterapkan supaya anak SUKA BELAJAR:
1. SUASANA YANG MENYENANGKAN adalah SYARAT MUTLAK yang diperlukan supaya anak suka belajar. Menurut hasil penelitian tentang cara kerja otak, bagian pengendali memori di dalam otak akan sangat mudah menerima dan merekam informasi yang masuk jika berada dalam suasana yang menyenangkan.
2. Membuat ANAK SENANG BELAJAR adalah JAUH LEBIH PENTING daripada menuntut anak mau belajar supaya menjadi juara atau mencapai prestasi tertentu. Anak yang punya prestasi tapi diperoleh dengan terpaksa tidak akan bertahan lama. Anak yang bisa merasakan bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan akan mempunyai rasa ingin tahu yang besar, dan sangat mempengaruhi kesuksesan belajarnya di masa yang akan datang.
3. Kenali tipe dominan CARA BELAJAR ANAK, apakah tipe AUDITORY (anak mudah menerima pelajaran dengan cara mendengarkan), VISUAL (melihat) ataukah KINESTHETIC (fisik). Meminta anak secara terus menerus belajar dengan cara yang tidak sesuai dengan tipe cara belajar anak nantinya akan membuat anak tidak mampu secara maksimal menyerap isi pelajaran, sehingga anak tidak berkembang dengan maksimal.
4. Belajar dengan JEDA WAKTU ISTIRAHAT setiap 20 menit akan JAUH LEBIH EFEKTIF daripada belajar langsung 1 jam tanpa istirahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak mampu melakukan konsentrasi penuh paling lama 20 menit. Lebih dari itu anak akan mulai menurun daya konsentrasinya. Jeda waktu istirahat 1-2 menit akan mengembalikan daya konsentrasi anak kembali seperti semula.
5. Anak pada dasarnya mempunyai naluri ingin mempelajari segala hal yang ada di sekitarnya. Anak akan menjadi SANGAT ANTUSIAS dan SEMANGAT untuk belajar jika isi/materi yang dipelajari anak SESUAI DENGAN PERKEMBANGAN ANAK. Anak akan menjadi mudah bosan jika yang dipelajari terlalu mudah baginya, dan sebaliknya anak akan menjadi stress dan patah semangat jika yang dipelajari terlalu sulit. ---

Wednesday, April 9, 2008

minta tolong

bagi yang mengetahui tentang program beasiswa S2, bagi guru atau umum, tolong di informasikan. terima kasih...
mudah-mudahan info dari anda sebagai jalan wujudkan cita-cita selama ini.

Saturday, March 22, 2008

Penelitian Daya Serap Mata Pelajaran

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan secara sukarela, dilakukan di kelas 6 SDIT darul Abidin, dengan metode survey dengan 44 responden.
dari penelitian ini akan diketahui perubahan minat belajar siswa dari kelas sebelumnya, pelajaran yang paling mudah dimengerti, yang paling sulit dimengerti, sikap guru yang paling disukai oleh siswa sehinggga meningkatkan daya serap mata pelajaran penelitian tindakan kelas ini berjudul :
KONTRIBUSI METODE PENGAJARAN TERHADAP KEGAIRAHAN BELAJAR PESERTA DIDIK YANG BERPENGARUH KEPADA DAYA SERAP MATA PELAJARAN
hasilnya menyusul yah....doakan aja biar lancar selalu

Saturday, March 1, 2008

Perkembangan anakku

Mengamati seorang anak yang sedang berkembang
merupakan hal yang sangat menarik. Ia berkembang dari
bayi yang sedang terlentang pasif, kemudian dapat
tengkurap, duduk, berdiri, berjalan sampai
berlari-lari dengan aktif. Dari tidak mengerti
apa-apa, mengoceh, kemudian dapat berbicara. Proses
perkembangan otak yang optimal sesuai dengan tahapan
umurnya.
Perkembangan dapat dibagi menjadi perkembangan motorik
kasar, perkembangan pemecahan masalah visuo-motor yang
merupakan gabungan fungsi penglihatan dan motorik
halus, perkembangan bahasa dan perkembangan sosial.
Sebenarnya perkembangan seorang anak merupakan suatu
kesatuan yang utuh, pembagian tersebut semata-mata
hanya untuk memudahkan pengamatan, diagnosis dan
penanganan bila terdapat suatu penyimpangan.
Hubungan perkembangan motorik kasar dengan kecerdasan
di kemudian hari sangat sedikit, anak yang menderita
redartasi mental tidak selalu mengalami keterlambatan
perkembangan motorik kasar sedangkan anak dengan
perkembangan motorik kasar yang sangat cepat belum
tentu merupakan anak yang cerdas. Mengenai
perkembangan motorik kasar tidak dibicarakan hari ini.

Sesuai topik Autisma, yang penting diketahui adalah
perkembangan bahasa dan pemecahan masalah visuo-motor.
Kedua jenis perkembangan ini sangat berhubungan dengan
kemampuan intelek di kemudian hari.
B.Perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah
visuo-motor
Perkembangan motorik halus dan pemecahan masalah
visuo-motor adalah kemampuan tangan dan jari-jari
serta koordinasi mata-tangan untuk memanipulasi
lingkungan. Sebagai contoh, misalnya seorang bayi
melihat suatu benda yang menarik perhatiannya
(visual). Ia berpikir bagaimana cara mendapat benda
yang menarik tersebut (kecerdasan). Ia akan merangkak
mendekati benda tersebut (lokomosi dan postur),
kemudian meraih benda tersebut dengan jari-jarinya dan
benda tersebut dimasukkan ke mulutnya (motorik halus).
Jelaslah bahwa kemampuan ini dipengaruhi oleh
matangnya fungsi motorik berupa postur dan koordinasi
saraf-otot yang baik, fungsipenglihatan yang akurat
dan kecerdasan. Kemampuan memecahkan masalah
visuo-motor merupakan indikator yang baik dari
intelegensi si kemudian hari. Bila ada gangguan, harus
dibedakan apakah penyebabnya motorik, gangguan
penglihatan atau kecerdasan.
Kontrol tangan dimuali dari bahu yang menghasilakan
gerak lengan yang kasar, menjadi gerak siku yang baik
dan akhirnya gerak pergelangan tangan dan jari-jari.
Gerak mengambil benda dimulai dari mengambil dengan
genggaman seluruh tangan kemudian menggunakan
jari-jari untuk melakukan pincer grasp (menjumput
dengan dua jari).
B.1. Tahapan perkembangan motorik halus dan pemecahan
masalah visuo-motor
Visual
Fiksasi pandangan lahir
Mengikuti benda melaui garis tengah 2 bulan
Mengetahui adanya benda kecil 5 bulan

Motorik Halus
Telapak tangan terbuka 3 bulan
Menyatukan kedua tangan 4 bulan
Memindahkan benda antara kedua tangan 5 bulan
Meraih unilateral 6 bulan
Pincer grasp imatur 9 bulan
Pincer grasp matur dengan jari 11 bulan
Melepaskan benda dengan sengaja 12 bulan

Pemecahan Masalah
Memeriksa benda 7-8 bulan
Melemparkan benda 9 bulan
Membuka penutup mainan 10 bulan
Meletakkan kubus di bawah gelas 11 bulan


Menggambar
Mencoret 12 bulan
Meniru membuat garis 15 bulan
Membuat garis spontan 18 bulan
Membuat garis horisontal dan vertikal 25-27 bulan
Meniru membuat lingkaran 30 bulan
Membuat lingkaran spontan tanpa melihat contoh 3 tahun


Melaksanakan Tugas
Memasukkan biji ke dalam botol 12 bulan
Melepaskan biji dengan meniru 14 bulan
Melepaskan biji spontan 16 bulan


Menyusun Kubus (gunakan kubus dengan sisi 2,5 cm)
Menyusun 2 kubus 15 bulan
Menyusun 3 kubus 16 bulan
Kereta api dengan 4 kubus 2 tahun
Kereta api dengan cerobong asap 2,5 tahun
Jembatan dari 3 kubus 3 tahun
Pintu gerbang dari 5 kubus 4 tahun
Tangga dan dinding dari beberapa kubus tanpa melihat
contoh 6 tahun


Makan
Makan biskuit yang dipegang 9 bulan
Minum dari gelas sendiri/menggunakan sendok 12 bulan


Berpakaian
Membuka baju sendiri 24 bulan
Memakai baju 36 bulan
Membuka kancing 36 bulan
Memasang kancing 48 bulan
Mengikatkan tali sepatu 60 bulan

B.2. Keterlambatan perkembangan motorik halus Adanya
keterlambatan harus difikirkan bila ditemukan hal
berikut :

* Tidak mau memegang atau mengenal benda yang
diletakkan di tangannya pada usia 4 bulan
* Tangan tetap terkepal erat sampai usia 4-5 bulan
* Tidak dapat melakukan gerak menjumput benda kecil
dengan ujung jari sampai 1 tahun
* Tidak dapat melepaskan benda kecil ke dalam gelas
usia 18 bulan
* Tetap bermain dengan jari sampai usia 6-7 bulan
* Tetap memasukkan benda ke dalam mulut disertai
ngiler berlebihan sampai usia 2 tahun

Pada anak yang agak besar, gangguan perkembangan
pemecahan masalah visuo-motor dapat diperiksa secara
bermain dengan anak. Gunakan kubus berukuran 2,5 cm
untuk menguji kemampuan anak. Uji lain dapat dilakukan
dengan menggambar menggunakan crayon. Beberapa
gangguan gerak dapat merupakan bagian dari suatu
kelainan saraf.

* Gerakan seperti mencuci tangan terus menerus pada
anak perempuan dapat merupakan ciri sindrom Rett,
suatu kelainan yang ditandai kemunduran mental seorang
anak.
* Gerakan tangan seperti melambai-lambai disisi tubuh
dapat menjadi salah satu autisma.
* Anak yang bermain monoton dapat menjadi ciri
autisma.

C.Perkembangan bahasa

Fungsi berbahasa merupakan proses paling kompleks di
antara seluruh fase perkembangan. Fungsi berbahasa
bersama fungsi perkembangan pemecahan masalah
visuo-motor merupakan indikator yang paling baik dari
ada tidaknya gangguan perkembangan intelek. Gabungan
kedua fungsi perkembangan ini akan menjadi fungsi
perkembangan sosial. Perkembangan bahasa memerlukan
fungsi reseptif dan ekspresif. Fungsi reseptif adalah
kemampuan anak untuk mengenal dan bereaksi terhadap
seseorang, terhadap kejadian lingkungan sekitarnya,
mengerti maksud mimik dan nada suara dan akhirnya
mengerti kata-kata. Fungsi ekspresif adalah kemampuan
anak mengutarakan pikirannya, dimulai dari komunikasi
preverbal (sebelum anak dapat berbicara), komunikasi
dengan ekpresi wajah, gerakan tubuh, dan akhirnya
dengan menggunakan kata-kata atau komunikasi verbal.
C.1. Fungsi berbahasa pada bayi baru lahir

Fungsi reseptif terlihat dengan adanya reaksi terhadap
suara. Hal ini pada mulanya bersifat refleks. Kemudian
ia memperlihatkan respons motorik berupa terdiam kalau
mendengar suara, mengedip, atau seperti gerak
terkejut. Fungsi ekspresif muncul berupa mengeluarkan
suara tenggorok misalnya bertahak, batuk dan menangis.
Fungsi suara tenggorok berangsur menghilang umur 2
bulan, digantikan dengan suara "ooo-ooo". Senyum
sosial telah dapat dilihat pada umur 5 minggu dengan
berbicara atau mengelus pipinya. Senyum simetris,
tidak seperti senyum asimetris yang dapat terlihat
pada saat anak buang air besar atau kecil yang disebut
sebagai meringis. Reaksi orientasi terhadap bunyi
seperti respons motorik, mengedip atau gerakan seperti
kaget merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.
C.2. Fungsi berbahasa pada umur 2-12 bulan

Pada umur 2 bulan, bayi dapat mengeluarkan suara
"ooo-ooo" dengan irama yang musikal. Pada umur 4
bulan, terdengar suara "agguuu-aguuu". Pada umur 6
bulan terdengar anak dapat menggumam. Pada umur 8
bulan ia dapat mengucapkan "dadada" lalu menjadi
"dada" yang belum berarti, disusul "dada" yang
diucapkan saat ia melihat ayahnya. "Mama" akan muncul
lebih belakang. Ia dapat mengerti "Tidak boleh!" yang
disertai suara nada tinggi pada umur 9 bulan. Pada
umur 11 bulan ia dapat mengucapkan kata pertama yang
benar, disusul kata kedua pada umur 1 tahun. Orientasi
terhadap bel dapat digunakan untuk menguji kemampuan
reseptif dan orientasi. Pada umur 5 bulan ia menoleh
tetapi tidak menatap kepada suara. Umur 7 bulan
menoleh dan menatap sumber suara. Umur 10 bulan ia
mencari dan menatap sumber suara. Bel tidak dapat
digunakan untuk menguji pendengaran dengan baik.
C.3. Fungsi berbahasa 12-18 bulan

Antara 12-15 bulan terdengar munculnya kata-kata baru
sebanyak 4-6 kata. Dapat terdengar pula immature
jargoning yaitu anak berbicara dalam bahasa yang aneh,
atau mencoba mengucapkan kalimat berupa suara yang
tidak jelas artinya. Antara 16-17 bulan, ia sudah
dapat menguasai 7-20 kata jargoning menjadi lebih
matang yang ditandai munculnya kata yang benar
diantara kata yang tidak benar. Pada usia 18 bulan, ia
dapat mengucapkan kalimat pendek yang susunannya belum
benar misalnya :"Joni minta", "Kasih joni", "minta
susu".
C.4. Fungsi berbahasa setelah 18 bulan

Pada umur 21 bulan, perbendaharaan kata mencapai 50
kata, dan ia dapat mengucapkan kalimat terdiri dari 2
kata. Ia sudah menggunakan kata "saya"’ kamu walaupun
seringkali belum tepat. Pada umur 30 bulan, kata
"saya", "kamu" sudah benar. Pada umur 3 tahun ia
menguasai 250 kata dan dapat membentuk kalimat terdiri
dari 3 kata. Pada umur 4 tahun ia mulai bertanya
mengenai arti suatu kata, terutama yang abstrak. Ia
dapat bercerita dan menggunakan kalimat terdiri dari
4-5 kata.
Reseptif
Bereaksi terhadap suara lahir
Tersenyum sosial 5 minggu
Orientasi terhadap suara 4 bulan
Menoleh kepada suara bel
- Fase I 5 bulan
- Fase II 7 bulan
- Fase III 9 bulan
Mengerti perintah "Tidak boleh" 8 bulan
Mengerti perintah ditambah mimik 11 bulan
Mengerti perintah tanpa mimik 14 bulan
Menunjuk 5 bagian badan yang disebutkan 17 bulan


Ekspresif
Oooo-ooo 6 minggu
Guu, guuu 3 bulan
a-guuu, a-guuu 4 bulan
Mengoceh 4-6 bulan
Dadadada (menggumam) 6 bulan
Da-da tanpa arti
Ma-ma tanpa arti 8 bulan
Dada 10 bulan
Ma-ma
Kata pertama selain mama 11 bulan
Kata kedua 12 bulan
Kata ketiga 13 bulan
4-6 kata 15 bulan
7-20 kata 17 bulan
Kalimat pendek 2 kata 21 bulan
50 kata
Kalimat terdiri dari 2 kata 2 tahun
250 kata
Kalimat terdiri dari 3 kata 3 tahun
Kalimat terdiri dari 4-5 kata
Bercerita Menanyakan arti suatu kata Menghitung sampai
20 4 tahun

C.5. Keterlambatan, disosiasi dan deviansi

Kemungkinan adanya kesulitan berbahasa harus
difikirkan bila seorang anak terlambat mencapai
tahapan unit bahasa yang sesuai untuk umurnya. Unit
bahasa tersebut dapat berupa suara, kata, dan kalimat.
Selanjutnya fungsi berbahasa diatur pula oleh aturan
tata bahasa, yaitu bagaimana suara membentuk kata,
kata membentuk kalimat yang benar dan seterusnya.
Keterlambatan bicara terjadi pada 3-15% anak, dan
merupakan kelainan perkembangan yang paling sering
terjadi. Sebanyak 1% anak uang mengalami keterlambatan
bicara tetap tidak dapat bicara. Tiga puluh persen
diantara anak yang mengalami keterlambatan ringan akan
sembuh sendiri, tetapi 70% diantaranya akan mengalami
kesulitan berbahasa, kurang pandai atau berbagai
kesulitan belajar lainnya. Kemampuan berbahasa sangat
terlambat bila :

* Bayi tidak mau tersenyum sosial sampai 10 minggu
* Bayi tidak mengeluarkan suara sebagai jawaban pada
usia 3 bulan
* Tidak ada perhatian terhadap sekitar sampai usia 8
bulan
* Tidak bicara sampai usia 15 bulan
* Tidak mengucapkan 3-4 kata sampai usia 20 bulan

Disosiasi ditandai perbedaan yang bermakna antara
kecepatan perkembangan 2 fase yang berbeda. Hal ini
penting untuk deteksi gangguan komunikasi, dimana
fungsi bahan jelas tertinggal dari fungsi pemecahan
masalah. Pada retardasi mental, keduanya terlambat
sedangkan pada gangguan motorik yang disebut sebagai
palsi selebral fungsi motorik terlambat dibandingkan
fungsi bahasa dan pemecahan masalah. Deviansi
menunjukkkan progresi berbahasa yang tidak teratur
atau tidak menurut aturan yang seharusnya. Keadaan
inilah yang sering lolos dari pemeriksaan.
Kadang-kadang salah diagnosis sebagai kelainan jiwa.
Misalnya anak berumur 15 bulan sudah mempunyai
perbendaharaan kata 10-15 kata (kemampuan anak 18-20
bulan) tetapi tidak menunjukkan jargoning yang imatur
(kemampuan anak 14-15 bulan) terlihat juga adanya kata
yang diucapkan tetapi tidak dimengerti artinya. Pada
anak prasekolah, misalnya dapat membuat kalimat 5 – 6
kata tetapi perbendaharaan baru terbatas pada 200-300
kata (kemampuan anak berumur 2,5 tahun). Deviansi yang
hebat sering terlihat dan menjadi ciri autisma. Dalam
keadaan ini kemampuan ekspresif lebih menonjol
dibandingkan kemampuan reseptif.
C.6. Penyebab gangguan bicara dan berbahasa
*

Redartasi mental. Redartasi mental adalah kurangnya
kepandaian seorang anak dibandingkan anak lain
seusianya. Redartasi mental merupakan penyebab
terbanyak dari gangguan bahasa. Pada kasus redartasi
mental, keterlambatan berbahasa selalu disertai
keterlambatan dalam bidang pemecahan masalah
visuo-motor.
*

Gangguan pendengaran. Anak yang mengalami gangguan
pendengaran kurang mendengar pembicaraan disekitarnya.
Gangguan pendengaran selalu harus difikirkan bila ada
keterlambatan bicara. Pengobatan dengan pemasangan
alat bantu dengar akan sangat membantu bila kelainan
ini dideteksi sejak awal. Pada anak yang mengalami
gangguan pendengaran tetapi kepandaian normal,
perkembangan berbahasa sampai 6-9 bulan tampaknya
normal dan tidak ada kemunduran. Kemudian menggumam
akan hilang disusul hilangnya suara lain dan anak
tampaknya sangat pendiam. Adanya kemunduran ini juga
seringkali dicurigai sebagai kelainan saraf
degeneratif.
*

Gangguan bicara karena kelainan organ bicara. Keadaan
ini tidak dibahas disisni.
*

Gangguan berbahasa sentral adalah ketidak sanggupan
untuk menggabungkan kemampuan pemecahan masalah dengan
kemampuan berbahasa yang selalu lebih rendah. Ia
sering menggunakan mimik untuk menyatakan kehendaknya
seperti pada pantomim. Pada usia sekolah, terlihat
dalam bentuk kesulitan belajar.
*

Yang paling berat adalah autisma yang merupakan
gangguan komunikasi yang paling menunjukkan deviansi.
Istilah autisma digunakan untuk ciri gangguan
berbahasa dan tingkah laku. Hal yang lebih mendalam
tentang autisma akan dibahas oleh pembicara lain.
*

Mutisme selektif biasanya terlihat pada anak berumur
3-5 tahun, yang tidak mau bicara pada keadaan
tertentu, misalnya di sekolah atau bila ada orang
tertentu. Atau kadang-kadang ia hanya mau bicara pada
orang tertentu, biasanya anak yang lebih tua. Keadaan
ini lebih banyak dihubungkan dengan kelainan yang
disebut sebagai neurosis atau gangguan motivasi.
Keadaan ini juga ditemukan pada anak dengan gangguan
komunikasi sentral dengan intelegensi yang normal atau
sedikit rendah.
*

Deprivasi. Dalam keadaan ini anak tidak mendapat
rangsang yang cukup dari lingkungannya. Apakah
stimulasi yang kurang akan menyebabkan gangguan
berbahasa? Penelitian menunjukkan sedikit
keterlambatan bicara, tetapi tidak berat. Bilamana
anak yang kurang mendapat stimulasi tersebut juga
mengalami kurang makan atau child abuse, maka kelainan
berbahasa dapat lebih berat karena penyebabnya bukan
deprivasi semata-mata tetapi juga kelainan saraf
karena kurang gizi atau child abuse.
*

Bicara dalam 2 bahasa hanya kadang-kadang saja
menyebabkan keterlambatan. Umumnya anak dapat
menguasai 2 bahasa dengan mudah.
*

Keterlambatan fungsional: Dalam keadaan ini biasanya
fungsi reseptif sangat baik, dan anak hanya mengalami
gangguan dalam fungsi ekspresif: Ciri khas adalah anak
tidak menunjukkan kelainan neurologis lain.
C.7. Cara membedakan berbagai keterlambatan berbahasa

Dengan memperhatikan fungsi reseptif, ekspresif,
kemampuan pemecahan masalah visuo-motor dan pola
keterlambatan perkembangan, dapat diperkirakan
penyebab kesulitan berbicara.
Diagnosis Bahasa reseptif Bahasa ekspresif Kemampuan
pemecahan masalah visuo-motor Pola perkembangan
Tuli < normal < normal normal Disosiasi
Redartasi mental < normal < normal < normal
Keterlambatan global
Gangguan komunikasi sentral < normal < normal normal
Disosiasi, deviansi
Kesulitan belajar normal, normal normal,< normal
Disosiasi
Autisma normal,< normal Tampaknya normal, normal,
selalu lebih baik dari bahasa Deviansi, disosiasi
Mutisme elektif normal normal normal,< normal
Keterlambatan fungsional normal < normal normal Hanya
ekspresif yang terganggu


Kesimpulan
Dalam perkembangannya menjadi manusia dewasa, seorang
anak berkembang melalui tahapan tertentu. Diantara
jenis perkembangan, yang paling penting untuk
menentukan kemampuan intelegensi di kemudian hari
adalah perkembangan motorik halus dan pemecahan
masalah visuo-motor, serta perkembangan berbahasa.
Kemudian keduanya berkembang menjadi perkembangan
sosial yang merupakan adaptasi terhadap lingkungan.
Walaupun kecepatan perkembangan setiap anak
berbeda-beda, kita harus waspada apabila seorang anak
mengalami keterlambatan perkembangan atau penyimpangan
perkembangan. Untuk mendeteksi keterlambatan, dapat
digunakan 2 pendekatan : Yang pertama adalah
menyerahkan kepada orang tua, nenek, guru atau
pengasuh untuk melaporkan bila anak mengalami
kesulitan berbahasa. Kerugian cara ini adalah bahwa
orang tua sering menganggap bahwa anak akan dapat
menyusul keterlambatannya dikemudian hari dan cukup
ditunggu saja, atau nenek mengatakan bahwa ayah atau
ibu juga terlambat bicara, atau anggapan bahwa anak
yang cepat jalan akan lebih lambat bicara.
Kadang-kadang disulitkan oleh reaksi menolak dari
orang tua yang tidak mengakui bahwa anak mengalami
keterlambatan bicara Pendekatan kedua adalah dengan
deteksi aktif, membandingkan apakah seorang anak dapat
melakukan fungsi bahasa yang sesuai dengan baku untuk
anak seusianya. Pendekatan kedua juga mempunyai
kelemahan yaitu akan terlalu banyak anak yang
diidentifikasi sebagai "abnormal" karena bicara
terlambat. Sebagian besar diantaranya memang secara
alamiah akan menyusul bicara dikemudian hari.
Kadang-kadang masih ditemukan dokter yang dengan
ringan mengatakan : "Tidak apa-apa, ditunggu saja".
Menurut hemat saya peran orang tua untuk melaporkan
kecurigaannya dan peran dokter untuk menanggapi
keluhan tersebut sama pentingnya dalam penatalaksanaan
anak. Bila dijumpai keterlambatan atau penyimpangan
harus dilakukan pemeriksaan atau menentukan apakah hal
tersebut merupakan variasi normal atau suatu kelainan
yang serius. Jangan berpegang pada pendapat :"Nanti
juga akan berkembang sendiri" atau "Anak semata-mata
hanya terlambat sedikit" tanpa bukti yang kuat, yang
akan mengakibatkan diagnosis yang terlambat dan
penatalaksanaan yang semakin sulit.